Ajaran Luther, Zwingli & Calvin

PERSAMAAN DAN PERBEDAAN TEOLOGI REFORMATORIS PROTESTAN

Luther, Zwingli dan Calvin adalah tokoh-tokoh dalam reformasi gereja. Dikatakan sebagai tokoh reformasi, karena mereka mengkritik dan mereformasi ajaran gereja Katolik Roma pada masa itu. Dikemudian hari, mereka juga menyebut gereja mereka “yang direformasikan”.[1] Antara aliran yang berkaitan erat dengan Martin Luther (1483-1546) di Wittenberg dengan aliran yang berkaitan erat dengan Ulrich Zwingli (1484-1531) di kota Zurich, Swis yang di dalamnya juga termasuk Johannes Calvin (1509-1564) terdapat banyak persamaan, namun ada juga perbedaan-perbedaanya. Berikut kita akan membahas persamaan-persamaan maupun perbedaan-perbedaan dari ketiga tokoh reformasi di atas.

Persamaan Teologi Luther, Zwingli dan Calvin
Martin Luther, Ulrich Zwingli dan Johannes Calvin merupakan tokoh-tokoh reformasi yang mengkritik gereja Kalolik Roma pada masa itu, di mana terjadi krisis kepausan pada akhir abad pertengahan, yang juga berkaitan dengan krisis rohani yang dialami oleh anggota-anggota gereja. Luther, Zwingli dan Calvin dalam teologinya berpandangan bahwa kebenaran ilahi harus dicari dalam Alkitab, bukan dalam ajaran gereja sebagaimana yang banyak dirumuskan oleh gereja Katolik Roma, dan bahwa keselamatan semata-mata hanya oleh anugerah Allah melalui Yesus Kristus yang mati di kayu salib, dibangkitkan, dan naik ke surga untuk menebus dosa-dosa manusia.
Baik Luther, Zwingli dan Calvin memahami bahwa pelayanan sakramen gereja tidak dapat menyelamatkan. Karena dalam teologi Luther, Zwingli dan Calvin hanya Alkitab yang merupakan sumber kebenaran ilahi. Maka pemberitaan firman (khotbah) menjadi titik sentral dalam ibadah, dibandingkan dengan sakramen yang dianggap sangat penting dalam gereja Katolik Roma.

Perbedaan Teologi Luther, Zwingli dan Calvin
Perbedaan antara Teologi Luther, Zwingli dan Calvin lebih banyak dibandingkan dengan persamaannya, meskipun mereka sama-sama menolak ajaran dari gereja Katolik Roma. Salah satu dari perbedaan yang ada adalah pandangan mereka mengenai Perjamuan Kudus.

a. Martin Luther (1483-1546)
Teologi Luther dipengaruhi oleh Augustinus dan teologinya berkembang di sebuah universitas. Hal ini dapat kita lihat dari 97 dalil yang ia keluarkan untuk menentang gereja Katolik Roma mengenai “Surat Penghapusan Siksa” yang ia diskusikan di universitas. Dalam tulisannya ini, Luther memperlihatkan pengaruh Augustinus. Teologi Luther, umumnya teologi Reformasi, biasanya diringkaskan dengan tiga ungkapan dalam bahasa Latin: sola gratia, sola fide dan sola Scriptura.
Mengenai Kristologi:[2] pandangan Luther mengenai ajaran tentang Yesus bertolak dari kesatuan antara kemanusiaan dan keilahian Kristus, yang berarti bahwa bagi Luther kemanusiaan Kristus ditentukan oleh keilahian-Nya.
Baptisan:[3] Luther menekankan kembali hubungan yang erat antara Sakramen dan Firman Allah. Menenai baptisan, Luther berpandangan bahwa Baptisan Kudus merupakan tanda yang ditetapkan Allah untuk memeteraikan janji-Nya sebagai pengampunan dosa manusia. Namun, Luther tetap mempertahankan bahwa percaya akan janji Allah perlu, karena hanya dalam iman orang dapat menikmati pengampunan yang dijanjikan dalam baptisan. Luther menyetujui Baptisan Anak, dan ia berpandangan bahwa tidak perlu orang mempunyai iman yang matang untuk menerima baptisan, sebab bukan imanlah yang menjadikan baptisan efektif, melainkan janji Allah.
Perjamuan Kudus:[4] Luther menolak doktrin Katolik Roma mengenai transsubstansiasi[5], tetapi tetap percaya akan kehadiran yang nyata dari tubuh dan darah Kristus “di bawah” roti dan anggur dalam Perjamuan Kudus. Luther lebih menonjolkan iman dalam Perjamuan Kudus. Bagi Luther Perjamuan Kudus adalah tanda nyata bahwa keselamatan yang dijanjikan dalam Firman mengenai penebusan dosa oleh Kristus pada kayu salib, benar-benar diberikan kepada orang yang menyerahkan diri dalam iman kepada Allah yang rahmani. Tanpa iman, Perjamuan Kudus menjadi tanda keselamatan yang tidak efektif.
Gereja dan negara:[6] Luther melihat hubungan antara gereja dan negara sangat mempengaruhi pemerintah dalam kehidupan gereja. Menurutnya sebaiknya raja diikutsertakan sebagai orang partikelir dalam pimpinan gereja demi mencegah bahaya timbulnya kasta iman tersendiri yang hierarkis. Jadi, baginya yang terpenting adalah sekali-kali bukanlah pengaturan hubungan antara gereja dan Negara.

b. Ulrich Zwingli (1484-1531)[7]
Zwingli pernah menjadi pastor Gereja Katolik Roma di Glarus. Ia adalah murid dari Erasmus, namun dalam pekerjaannya itu, ia lebih banyak dipengaruhi oleh Augustinus. Zwingli berpendapat bahwa suatu doktrin tidak boleh berlawanan dengan akal. Hal ini dapat kita bandingkan dengan teologi Luther yang kurang menekankan peranan akal dalam teologinya.
Baptisan: dalam salah satu karyanya, Zwingli menulis buku berjudul Baptisan, Baptisan Ulang dan Baptisan Anak. Di dalamnya ia membela dilakukannya baptisan anak, baginya baptisan anak merupakan tanda perjanjian, dan perjanjian meliputi seluruh keluarga bukan hanya oknum-oknum tertentu. Namun, meskipun ia mempertahankan baptisan anak, Zwingli (berlainan dengan Luther) menolak kepercayan Katolik Roma, bahwa baptisan, juga baptisan anak memberikan kelahiran baru dan pengampunan dosa. Ia berpendapat bahwa baptisan merupakan tanda luar dari iman kita. Lebih lanjut Zwingli berpandangan bahwa sakramen (baptisan) adalah tindakan simbolis, yang menunjuk kepada keselamatan yang diberikan Kristus dan yang dipakai oleh orang-orang percaya untuk memperingati dan untuk menyatakan iman mereka.
Mengenai Perjamuan Kudus: Zwingli menolak kehadiran yang nyata dari tubuh dan darah Kristus, ia menegaskan bahwa roti dan anggur hanya lambang dari tubuh dan darah Kristus. Bagi Zwingli Perjamuan Kudus merupakan peringatan pengucapan syukur, pada waktu mana kita memperingati karya Kristus di kayu salib. Ia juga berpendapat, bahwa “tubuh” dan “darah” adalah lambang untuk keselamatan yang diperoleh Kristus dengan tubuh dan darah-Nya di kayu salib.[8]
Gereja dan negara: Zwingli tidak begitu menaruh perhatian yang khusus pada peranan negara dalam gereja sebagaimana pandangan Luther. Ketika ia diangkat menjadi imam di wilayah Glarus tahun 1516, ia menentang praktek perdagangan tentara bayaran yang dilakukan pemerintah Swis. Menurutnya praktek-praktek ini tidak bermoral dan Zwingli mengkritik hal ini dengan khotbah-khotbah yang ia utarakan.

c. Johannes Calvin (1509-1564)[9]
sebelum mengikuti studi teologi, Calvin sempat belajar di universitas di Paris, fakultas hukum. Calvin mengagumi Erasmus dengan Humanismenya, bahkan Calvin pernah menghasilkan karya ilmiah Humanisme pada tahun 1532.[10]
Mengenai Kristologi: pandangan Calvin mengenai ajaran tentang Kristus bertolak dari perbedaan antara tabiat ilahi dan tabiat manusiawi dalam diri Kristus dan menekankan bahwa walaupun dalam Kristus ke-allah-an berdiam secara penuh, itu tidak berarti bahwa keilahian-Nya terbatas pada Yesus sebagai manusia.
Baptisan: Calvin melihat baptisan sebagai tanda pengampunan dosa dan kelahiran baru. Pengampunan ini diberikan Allah kepada manusia sebelum ia lahir, sehingga tidak dapat diikat pada pelayanan baptisan. Lebih lanjut baptisan menurut Calvin menandai bahwa orang percaya ikut serta dalam kematian dan kebangkitan Kristus, dan bahwa orang percaya menjadi satu dengan Kristus. Konsekuensi dari ikatan baptisan dengan keanggotaan gereja bagi Calvin adalah bahwa pelayanan baptisan harus terjadi di dalam kebaktian jemaat, oleh pejabat yang ditentukan oleh gereja, yaitu Pendeta.
Perjamuan Kudus: Calvin berpandangan, bahwa Perjamuan Kudus adalah tanda, tetapi bukan tanda kosong, sebab tanda ini diberikan Allah melalui Anak-Nya, supaya orang percaya melalui roti dan anggur betul-betul dipersatukan dengan tubuh dan darah Kristus. Dalam Perjamuan Kudus, Kristus betul-betul hadir untuk menjadi satu dengan orang-orang percaya, dan menguatkan iman mereka. Kristus membuat makanan jasmani menjadi rohani, sehingga orang-orang yang ikut dalam Perjamuan Kudus menerima apa yang telah diterima Kristus pada kayu salib, yakni pengampunan dosa dan hidup yang kekal.
Gereja dan negara: Calvin berpendapat bahwa negara perlu selama gereja masih berada di dunia ini, itu tidak berarti bahwa ia menyerahkan segala-galanya kepada pemerintah. Dengan tegas ia menetapkan batas antara gereja dan negara, atau dengan istilah lain, antara pemerintahan rohani dan duniawi/politik. Ia juga menjelaskan bahwa pemerintah berasal dari Allah, tetapi pemerintahan rohani yang diselenggarakan oleh gereja, membina manusia supaya memperoleh keselamatan abadi, sedangkan pemerintahan sipil, yang ditangani oleh negara, membina kehidupan bersama di dunia ini.

by HR

(HR seorang freethinker.. saya bukan penganut freethinker, tapi tulisannya di atas semata2 Ajaran Reformed, jadi saya repost artikel ini karena jarang & sukar ditemukan tulisan mengenai perbandingan ajaran ketiga reformator besar ini di internet. Semoga dapat dipelajari & menjadi berkat kepada Kebenaran Kristus, Kebenaran Alkitab satu2nya. trims.)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: